Sejarah Pelabuhan Rempah Tua Kalimas Surabaya


Pelabuhan Kalimas Tempo [email protected]

SEPUTAR Surabaya Surabaya, kota yang berada di ujung timur Pulau Jawa ini terkenal dengan kesibukannya yang legendaris pada masa lampau.  

Letaknya yang strategis karena berhadapan langsung dengan selat Madura dan laut Jawa, menjadikannya sebagai tempat hiruk pikuk para pedagang.

Hal ini juga yang membuat peran Surabaya sangatlah penting dalam perdagangan Rempah

Pada abad ke-14 sebelum Pelabuhan Tanjung Perak dibangun pasca kedatangan Belanda, Surabaya telah memiliki pelabuhan utama yang menjadi jantung perdagangan, yaitu Pelabuhan Rakyat Kalimas.

Pelabuhan Rempah Kalimas, atau yang lebih dikenal dengan nama Pelabuhan Rakyat Kalimas, adalah salah satu pelabuhan rempah tertua di Surabaya.

(BACA JUGA:Pernah Terlibat Dalam Pertempuran Laut Aru, Simak Sejarah Monumen Kapal Selam Surabaya)

Namun sejak pemerintahan kolonial dan didirikannya pelabuhan Tanjung Perak, pelabuhan tersebut tidak lagi menjadi pelabuhan utama.

Meskipun demikian, pelabuhan ini masih menjadi tempat berlayar bagi para pelayar kecil di Surabaya.

Sebelum masa kolonial, kapal kargo besar hanya bisa melewati Selat Madura. 

Tidak adanya parit sebagai akses menuju Kota Surabaya, memaksa kapal-kapal besar untuk berlabuh di selat dekat Surabaya. 

Tongkang dan kapal kecil kemudian mendekati kapal besar dalam proses bongkar muat. 

Setelah memuat barang, kapal-kapal tersebut dengan cepat mengikuti sungai Kalimas hingga mencapai pelabuhan utama Surabaya. 

(BACA JUGA:Jarang Diketahui! 3 Benteng Ini Pernah Menjaga Kota Surabaya)

Saat itu, Pelabuhan Kalimas merupakan pusat niaga kota Surabaya. Tempat rempah-rempah ini bergerak hilir mudik juga meninggalkan jejaknya. 

Kapal-kapal pinisi berjajar rapi di tepi dermaga. Buruh panggul dan awak kapal sibuk hilir mudik untuk proses bongkar muat. 


Suasana Pelabuhan Kalimas Tempo [email protected]

Gambar ini merupakan upaya reformasi dan pembangunan pemerintah Hindia Belanda. 

Jadi tidak heran jika kanal-kanal mulai terlihat seperti banyak di Negeri Tulip tersebut.

Belanda yang tertarik dengan pelabuhan ini, mulai memperbaiki beberapa infrastruktur lain untuk memperlancar lalu lintas kapal. 

Perhatian tidak hanya diberikan pada jalur air, tetapi transportasi darat juga difasilitasi, di mana pemerintah kolonial membangun jembatan lipat otomatis di atas sungai Kalimas. 

(BACA JUGA:Habis Tergerus Zaman! Taman Hiburan Rakyat (THR), Ikon Seni Kota Surabaya yang Hilang!)

Sehingga saat kapal lewat, jembatan ini bisa dilipat. Sekarang jembatan ini disebut jembatan “petekan” yang artinya menekan atau menekan. 

Pasalnya, jembatan ini bisa dibuka tutup saat kapal  besar berlayar dari Laut Jawa menuju Jembatan Merah di Mojokerto.

Di sekitar pelabuhan tersebut, tampak jejak peninggalan lainnya, yaitu Menara Syahbandar.

Dengan ketinggian 10 meter, keberadaan menara itu menjadi tanda kehadiran Syahbandar. 

Hal ini juga menunjukkan betapa pentingnya pelabuhan  bagi para penguasa, karena merupakan pusat kontak bagi banyak budaya yang dibawa oleh para pedagang. 

Selain itu, Syahbandar juga bertanggung jawab untuk mengendalikan perdagangan, mengenakan pajak, memantau kualitas barang secara keseluruhan, dan menentukan mata uang  yang  digunakan dalam transaksi.

(SS)

 

`
Kategori : Asli Surabaya