Legenda Raden Sawunggaling atau Joko Berek, Sosok Babat Alas Surabaya Barat


Sawunggaling Lidah Wetan-Ecobis-https://bappeko.surabaya.go.id/

SEPUTAR SURABAYA - Sawunggaling mungkin tidak asing di telinga masyarakat Indonesia terutama warga Surabaya di area Barat. Beberapa mahasiswa juga mengkaji mengenai Raden Sawunggaling terutama mahasiswa di Surabaya.

Makam Sawunggaling sendiri terletak di Desa Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri Surabaya dan menjadi manifestasi atas sejarah kebesaran kerajaan Surabaya di masanya.

Menurut bererapa sumber, Raden Sawunggaling merupakan seorang adipati yang jujur, gagah, dan berani putra dari Dewi Sangkrah dan Adipati Jayengrono yang juga sosok babat alas kota Surabaya bagian barat.

Joko Berek

(BACA JUGA:Habis Tergerus Zaman! Taman Hiburan Rakyat (THR), Ikon Seni Kota Surabaya yang Hilang!)

Pada zaman dahulu, Sawunggaling dikenal dengan sebutan Joko Berek. Sejak kecil lahirnya di Lidah Donowati Raden Joko Berek tidak memiliki teman lalu ketika menginjak usia tujuh tahun, dia meminta ayam kepada Ibunya dan merawat ayam tersebut hingga besar dan menjadi teman bermain Joko Berek.

Ayam tersebut merupakan weliring kuning yang dahulunya dierami oleh ular naga yang dikirim oleh burung garuda dan juga dipercaya yang diambilkan sang ibu dari daerah Mbalas.

Ketika Joko Berek beranjak dewasa, beliau menanyakan keberadaan Bapaknya kepada Ibunya. Ibunya memberikan sebuah cinde puspito kepada Joko Berek sebagai tanda bahwa dia adalah anak dari Raden Ayu Dewi Sangkrah untuk meyakinkan Bapaknya yang merupakan seorang Tumenggung di kota Surabaya. 

Akhirnya Joko Berek pergi ke keraton dengan membawa cinde pustito dan juga ayam jagonya untuk menemui Bapaknya Jayengrono. Namun belum sampai di keraton Joko Berek dihadang oleh Sawungrono dan Sawungsari yang tidak percaya begitu saja bahwa Joko Berek merupakan anak dari Tumenggung Jayengrono. 

(BACA JUGA:Inilah Sejarah Kelam Penamaan Kampung Pecinaan Kya Kya di Surabaya )

Kemudian Sawungrono dan Sawungsari mengajak Joko Berek untuk sabung ayam sebagai syarat bertemu dengan Tumenggung Jayengrono yang akhirnya dimenangkan oleh ayam Joko Berek tetapi Sawungrono dan Sawungsari membawa lari ayam Joko Berek kepada Bapaknya dan mengakui bahwa mereka yang memenangkan sabung ayam tersebut. 

Pada saat itu lah, Raden Joko Berek bertemu dengan Bapaknya karena mengejar Sawungrono dan Sawungsari yang membawa lari ayamnya. Kemudian Joko Berek memberitahu Jayengrono bahwa dia ingin bertemu dengan Jayengrono dan mengakui bahwa dia adalah anaknya dengan menunjukkan cinde puspito miliknya.

Tugas Dari Tumenggung Jayengrono

Tumenggung Jayengrono tidak percaya begitu saja atas pengakuan Joko Berek lalu Jayengrono memberikan tugas kepada Joko Berek dan harus menyelesaikan tugas-tugas tersebut hingga tuntas.

(BACA JUGA:Pernah Terlibat Dalam Pertempuran Laut Aru, Simak Sejarah Monumen Kapal Selam Surabaya)

Tugas pertaman Joko Berek ialah merawat 144 kuda milik Tumenggung Jayengrono. Apabila dari 144 kuda tersebut ada yang mati, Joko Berek dianggap hanya mengaku-ngaku sebagai anaknya Jayengrono. Namun Joko Berek berhasil merawat 144 kuda tersebut dengan baik.

Akhirnya, Tumenggung Jayengrono memberikan tugas kembali untuk Joko Berek yaitu membabat hutan nambas kelingan tentu saja Joko Berek menyanggupi tugas yang diberikan oleh Jayengrono.

Bersama dengan Raden Ayu Pandansari yang menyatu ke dalam tombak Joko Berek, dalam sekejap mata hutan nambas kelingan rata dengan tanah. Setelah selesai melaksanakan tugas yang diberikan oleh Jayengrono, Joko Berek kembali pulang.

Raden Ayu Pandansari

(BACA JUGA:Jarang Diketahui! 3 Benteng Ini Pernah Menjaga Kota Surabaya)

Ketika Joko Berek membabat hutan, dia bertemu dengan Raden Ayu Pandansari penunggu hutan nambas kelingan. Raden Ayu Pandansari memberi tawaran kepada Joko Berek untuk membantu membabat hutan nambas kelingan namun dengan syarat Joko Berek harus menikahinya.

Joko Berek pun menolak untuk menikahi Raden Ayu Pandansari karena menurut Joko Berek mereka berada di alam yang berbeda. Joko Berek pun akhirnya memberi syarat kepada Raden Ayu Pandansari, jika dia ingin menikah dengan Joko Berek, dia harus menitis kepada wanita yang dikehendakinya dan suatu saat Joko Berek pun akan menitis kepada laki-laki yang dikehendakinya disitulah mereka nantinya akan bersanding.

Setelah saling berjanji dan menyetujuinya, Raden Ayu Pandansari yang menyatu ke dalam tombak Joko Berek, dalam sekejap mata hutan nambas kelingan rata dengan tanah.

Perebutan Tahta Temenggung Surabaya

(BACA JUGA:Cantik dan Bersejarah: Inilah Jalan Tunjungan dan Kisahnya!)

Dengan usaha yang dilakukan oleh Joko Berek dalam menuntaskan semua tugas yang diberikan oleh Jayengrono disitulah Jayengrono merasa bahwa Joko Berek memang anaknya dengan Raden Ayu Dewi Sangkrah. 

Ketika Jayengrono merasa dirinya sudah mulai tua, dia merasa bingung siapa yang akan menggantikan dirinya kelak. Cakraningrat yang merupakan paman dari Jayengrono menyarankan melakukan sayembara untuk menentukan pengganti Jayengrono. 

Sayembara tersebut adalah menjatuhkan umbul-umbul yudha yang tidak ada satu pun dari keluarga keraton yang bisa menjatuhkan umbul-umbul yudha tidak boleh diikuti Joko Berek karena beliau dianggap sebagai orang desa dan jelek. Meskipun merasa dikucilkan namun Joko Berek tidak merasa sakit hati, dia langsung berpamitan untuk pulang. 

Para keluarga keraton mencoba kembali untuk menjatuhkan umbul-umbul yudha, tetapi tetap saja tidak ada yang bisa menjatuhkan umbul-umbul yudha tersebut. Akhirnya Jayengrono mengumumkan bahwa siapa saja boleh mengikuti sayembara tetapi, siapa pun yang dapat menjatuhkan umbul-umbul yudha ini, dia lah yang akan menggantikan posisinya sebagai Tumenggung di keraton. 

(BACA JUGA:Wisata Surabaya: Museum WR Soepratman Sang Penulis Lagu 'Indonesia Raya')

Setelah Jayengrono mengumumkan hal tersebut, tiba-tiba ada seorang bertopeng yang menunggangi kuda kemudian memasak menorogalak/umbul-umbul yudha hingga terjatuh. Ketika topeng tersebut dibuka ternyata dia adalah Joko Berek.

Dengan jatuhnya menorogalak/umbul-umbul yudha akhirnya Joko Berek ditetapkan sebagai pengganti Jayengrono. Setelah ditetapkan menjadi Tumenggung di Surabaya, Joko Berek diberi gelar sebagai Raden Sawunggaling. 

Makam Sawunggaling

Makam Sawunggaling ditemukan oleh warga pada tahun 1901. Pada hari Kamis malam Jumat, makam Sawunggaling kerap dikunjungi peziarah dari luar kota Surabaya serta pada hari-hari tertentu tokoh masyarakat Surabaya juga menyempatkan berkunjung ke makam ini.

(BACA JUGA:Sejarah Pelabuhan Rempah Tua Kalimas Surabaya )

Sempat diadakan Tradisi Kirab Sawunggaling sejak tahun 2012 dan terus diadakan setiap tahunnya di bulan Oktober. Namun beberapa tahun ini harus ditiadakan karena adanya pandemi.

Kirab Sawunggaling diadakan untuk memperingati keluarga besar dari Joko Berek atau Raden Sawunggaling yang dahulu bertempat tinggal di kampung Lidah Donowati atau sekarang dikenal dengan Lidah Wetan.

(SS)

`
Kategori : Asli Surabaya