Selain Bencana Iklim, Jutaan Terumbu Karang di Dunia Akan Mati Akibat Fenomena Pemanasan Global! Kok Bisa?


Ilustrasi Bawah [email protected]

SEPUTAR SURABAYA - Dunia harus siap menghadapi kenyataan bahwa tidak ada batas aman dari fenomena pemanasan global bagi terumbu karang.

Terumbu karang merupakan sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan tanaman alga serta sebagai tempat hidup ribuan spesies ikan.

Selain itu, terumbu karang dapat dimanfaatkan dalam industri pariwisata, yakni wisata bahari melihat keindahan bentuk dan warnanya, serta penelitian dan pemanfaatan biota perairan lainnya yang terkandung di dalamnya.

Secara tidak langsung terumbu karang bermanfaat sebagai penahan abrasi pantai yang disebabkan gelombang dan ombak laut, serta sebagai sumber keanekaragaman hayati.

(BACA JUGA:Akibat Pemanasan Global! Peristiwa La Niña dan El Niño Akan Datang Beberapa Dekade Lebih Awal )

Melansir dari laman the Guardian, lebih dari 90% terumbu di seluruh dunia akan dihancurkan oleh gelombang panas perairan yang parah dengan kemungkinan kenaikan suhu 2C yang berarti semua formasi karang akan menghadapi kehancurannya.

Seorang peneliti di Fakultas Biologi Universitas Leeds,  Adele Dixon telah mengungkap penelitian suram ini awal tahun ini. Dimana dunia akan  menghadapi kenyataan nyata bahwa tidak ada batas aman pemanasan global untuk terumbu karang.

Sebuah koalisi kelompok konservasi karang telah menggunakan KTT Cop27 di Mesir untuk menyatakan kekhawatiran atas "catastrophic losses" di terumbu karang dimana separuh terumbu dunia diperkirakan telah mati dalam tiga dekade terakhir serta menyerukan tindakan radikal dalam satu dekade yang mereka sebut "the last chance for a turning point in favour of coral reef survival."

Pemerintah harus mempercepat upaya untuk memperluas kawasan lindung laut, mengurangi pencemaran air dan memulihkan karang, tuntutan koalisi.

(BACA JUGA:Jelang KTT G20 di Bali, Berikut Hal-hal yang Perlu untuk Diketahui!)

Karang yang ditemukan di lepas pantai Sharm el-Sheikh, bagian dari jaringan karang Laut Merah sepanjang 4.000 km yang memiliki 200 spesies karang di lepas pantai Mesir saja, dianggap oleh para ilmuwan lebih tahan terhadap pemanasan global daripada terumbu karang yang ditemukan di tempat lain di dunia.

Great Barrier Reef di Australia, yang telah mengalami empat peristiwa pemutihan massal dalam enam tahun terakhir. Pemutihan terjadi ketika karang menjadi sangat tertekan panas sehingga mengeluarkan alga simbiotiknya yang memberinya warna, mengubahnya menjadi putih pucat dan membuatnya berisiko mati.

Sekitar 2,5 juta tahun yang lalu, permukaan laut turun dan Laut Merah terputus dari Samudera Hindia, membuatnya sangat panas dan asin. Karang yang bertahan di sini adalah yang mampu menahan panas tingkat tinggi. Laut Merah bisa menjadi tempat terakhir di mana karang yang signifikan tertinggal saat dunia menghadapi kerusakan iklim.

Tetapi bahkan di sini, seorang ilmuwan iklim dan pakar terumbu karang di University of British Columbia, Simon Donne melihat tanda-tanda penyakit dan kemungkinan kerusakan akibat panas ketika sedang istirahat dari pertemuan Cop27 dengan melakukan snorkeling di ujung selatan semenanjung Sharm El-Sheikh.

(BACA JUGA:Capai Rekor Tertinggi Tahun Ini! Laporan Suram Mengenai Emisi Karbon Tingkatkan Pemanasan Global)

Donner mengatakan dampak memakai tabir surya saat menyelam di dekat karang daripada yang lainnya tetapi krisis iklim tetap menjadi penyebab utama penurunan karang.

Beberapa karang terpencil dan terlindung mungkin tetap berada jauh di lautan jika kenaikan suhu dibatasi, tetapi kita sedang menuju dunia yang sebagian besar tanpa karang.

Donner kembali ke pertemuan Cop27 dan mengatakan mengatakan bahwa keputusan yang dibuat di dalam pusat konferensi itu akan menentukan masa depan ekosistem di lepas pantai sini.

(SS)

`
Kategori : Internasional
Sumber : the guardian