Tak Terhindarkan! Puluhan Ribu Kematian Akibat Fenomena Gelombang Panas Ekstrim di Eropa


Ilustrasi [email protected]

SEPUTAR SURABAYA - Lebih dari 20.000 meninggal dalam gelombang panas musim panas di Eropa barat, suhu tahun ini menunjukkan bahwa hampir tidak mungkin dilalui tanpa krisis iklim.

Pertemuan iklim Cop27 diakhiri dengan banyaknya pergolakan banyak negara di seluruh dunia dan temuan-temuan yang sungguh memprihatinkan yang pada akhirnya setiap manusia harus bersiap terhadap perubahan iklim yang akan terjadi. Hal ini akan sangat dirasakan oleh negara yang rentan dan miskin.

Fenomena gelombang panas sudah tidak asing di telinga seluruh masyarakat dunia. Tidak hanya negara-negara miskin yang paling merasakan ancaman dari krisis iklim yang ditimbulkan fenomena ini, namun tidak terkecuali juga berimbas pada negara maju dan kaya salah satunya di Eropa Barat.

Para ilmuwan mengungkapkan ancaman kematian lebih besar yang ditimbulkan oleh pemanasan global akibat perubahan iklim berdasarkan analisis dari tahun-tahun sebelumnya.

(BACA JUGA:Salah Satu Produsen Minyak Terbesar di Dunia! Uni Emirat Arab (UEA) Bakal Jadi Tuan Rumah Cop28 Tahun Depan!)

Melansir dari laman the Guardian, kelompok ilmuwan Atribusi Cuaca Dunia menemukan bahwa  selama gelombang panas musim panas suhu melebihi 40C (104F) di London, area di Prancis barat daya mencapai 42C dan Seville dan Córdoba di Spanyol mencetak rekor 44C.

Di Inggris dan Wales, sebanyak 3.271 lebih kematian tercatat antara 1 Juni dan 7 September, menurut Kantor Statistik Nasional dengan 6,2% lebih tinggi dari rata-rata lima tahun terakhir.

Analisis tersebut tidak secara khusus memperkirakan kematian akibat gelombang panas, namun jumlah kematian rata-rata lebih tinggi pada periode tersebut dimana kematian akibat kasus Covid-19 tidak termasuk.

Di Prancis, ada 10.420 kematian yang dilaporkan selama bulan-bulan musim panas, menurut data yang dikeluarkan oleh Santé Publique France, badan kesehatan pemerintah.

(BACA JUGA:Para Peneliti Ungkap Pembiakan Hewan dalam Penangkaran Sebabkan Perubahan Fisik dan Perilaku!)

Di Spanyol, Institut Kesehatan Carlos III yang didukung negara memperkirakan ada 4.655 kematian akibat panas antara Juni dan Agustus.

Institut Robert Koch, badan kesehatan pemerintah Jerman, memperkirakan 4.500 orang meninggal di negara itu selama bulan-bulan musim panas khususnya karena suhu ekstrem.

Dr Friederike Otto, dosen senior ilmu iklim di Institut Perubahan Iklim dan Lingkungan Grantham, Imperial College London, mengatakan gelombang panas adalah salah satu ancaman terbesar yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.

Dr Eunice Lo, seorang peneliti dalam perubahan iklim dan kesehatan di University of Bristol, mengatakan juga mengungkapkan bahwa gelombang panas menjadi lebih sering dan intens serta lebih panas di masa depan.

(BACA JUGA:Proposal UE Serukan Berbagai Pihak dan Sumber agar Perluas Sumber Pendanaan Dana Kerusakan dan Kerugian)

Pemanasan global disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, perusakan hutan dan aktivitas manusia lainnya. Badan Energi Internasional menyarankan agar tidak ada pengembangan gas, minyak atau batu bara baru yang dilakukan mulai tahun ini dan seterusnya dimana dunia membatasi pemanasan global hingga 1,5C.

Masyarakat dunia perlu beradaptasi dengan gelombang panas ekstrem dalam jangka panjang untuk bertahan. 

(SS)

`
Kategori : Internasional
Sumber : the guardian