5 Cara Jitu Agar Anak Doyan Makan Sayur, Sajikan Semenarik Mungkin Salah Satunya


Ilustrasi sayuran-Congerdesign-Pixabay.com

SEPUTAR SURABAYA - Bagi Orang Tua yang merasa kebingungan karena sang buah hati susah makan Sayur bisa simak artikel ini. Berikut ini cara jitu agar Anak Doyan Makan Sayur.

Ada berbagai jenis sayuran yang mengandung vitamin baik untuk perkembangan tumbuh kembang anak-anak. Namun, tidak semua anak mau memakan sayuran tersebut.

Hal ini terkadang menjadi keresahan para ibu-ibu maupun orang tua ketika melihat sang anak enggan untuk mengkonsumsi sayur-sayuran.

(BACA JUGA:Penuh Segudang Nutrisi! Beginilah 7 Manfaat Buah Mangga untuk Kesehatan Kulit dan Tubuh )

Akademisi Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, Fahmy Arif Tsani membagikan cara jitu agar anak doyan makan sayur.

Melansir dari laman NU Online, Fahmy mengungkapkan ada lima tips agar anak doyan makan sayur.

1. Menyajikan sayur semenarik mungkin.

Menurut Fahmy, tampilan hidangan berbasis sayur yang menarik dan lucu bisa merangsang keinginan anak supaya doyan makan sayur.

(BACA JUGA:Ternyata Ada Peran Orangtua Dibaliknya! Berikut 3 Penyebab Anak Menjadi Nakal Menurut Ustazah Oki Setiana Dewi)

"Bisa  dibuat bentuk makanan yang lucu-lucu. Kalau di Jepang itu ada yang namanya Bento. Misalnya, ada bentuk wajah orang, matanya dari wortel, lalu pas lihat rambutnya dari brokoli," ujarnya.

Dengan bentuk yang menarik ini diyakini bisa menggugah selera makan anak terhadap sayur karena merasa terhibur dan anak akan merasa gembira.

Hal ini merupakan langkah yang bisa digunakan untuk membentuk Kebiasaan anak makan sayur.

(BACA JUGA:Jangan Disepelekan! Inilah 5 Manfaat Jambu Air untuk Kesehatan, Buah Paling Melimpah yang Punya Banyak Khasiat)

2. Mengenalkan rasa dan bentuk sayur sejak dini.

Fahmy mengungkapkan, pengenalan sayur kepada anak sebaiknya dilakukan pada masa pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) atau umumnya kepada bayi setelah usia 6 bulan. 

"Tentu dengan konsistensi atau kepadatan yang bertahap, ya. Artinya, bisa diblender dan lainnya, sampai anak nanti bisa mengenal rasa sayur itu," tutur Fahmy yang dikutip Tim Seputar Surabaya dari laman NU Online pada Rabu (22/6).

3. Membiasakan makan sayur sedini mungkin.

Fahmy menilai, pengenalan sayur sebagai sumber pangan sehat bagi anak merupakan upaya paling utama.

(BACA JUGA:7 Cara Menghilangkan Bekas Cacar, Gunakan Madu Salah Satunya)

Pembiasaan makan sayur akan berjalan lancar jika sudah dikenalkan sejak dini dan diiringi dengan orang tua sebagai role model-nya.

"Orang tua itu menjadi teladan yang baik bagi anaknya. Jangan harap anaknya itu akan gemar makan sayur ketika orang tuanya pun juga nggak suka sayur," tegas Fahmy.

4. Membentuk kebiasaan makan bersama.

Makan bersama sekeluarga, kata Fahmy, bisa menjadi sarana dalam meningkatkan komunikasi antar anggota keluarga.

(BACA JUGA:10 Manfaat Minyak Zaitun untuk Rambut, Menutrisi hingga Mampu Atasi Rambut Rusak)

Komunikasi yang terjalin di meja makan dapat membangun hubungan yang lebih erat. Makan bersama pun bisa dilakukan di mana saja, baik di rumah maupun di restoran.

Meski begitu, Fahmy mengimbau orang tua harus bijak dalam menentukan restoran tujuan makan. Usahakan memilih restoran dengan menu yang sehat.

"Makan bersama di restoran sehat yang menyediakan menu sayur dan buah. Karena, ada restoran tertentu (yang tidak menyediakan menu sayur dan buah), kalau boleh saya menyebut itu restoran fast food. Itu minim atau bahkan tidak ada menu sayuran yang bisa kita pilih," paparnya.

(BACA JUGA:7 Cara Menghilangkan Bekas Jerawat Merah dengan Aman Menggunakan Bahan Alami)

5. Melibatkan anak dalam setiap upaya penyiapan makanan.

Fahmy meyakini bahwa melibatkan anak dalam proses penyediaan makanan mulai dari menentukan menu, memasak, hingga menghidangkannya, dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab anak dengan makanannya.

Menurut Fahmy, anak akan lebih menghargai makanan tersebut sehingga secara tak langsung anak akan dengan nyaman menyantap makanannya tanpa ada rasa paksaan.

Hal itu akan berbeda ketika anak tidak dilibatkan dalam proses penyajian, ditambah dengan adanya tekanan dari orang tua yang justru bisa menimbulkan trauma bagi anak.

(BACA JUGA:4 Manfaat Buah Markisa yang Baik untuk Kesehatan dan Cara Mengonsumsinya)

"Sehingga pada saat disajikan dalam porsi makanan seolah-olah itu menjadi hasilnya dan harus dinikmati dengan nyaman tanpa ada paksaan," pungkas Magister lulusan Gangneung-Wonju National University, Korea Selatan itu.

Ikuti berita terkini dari Seputar Surabaya di Google News, klik disini

(SS)

`
Kategori : Gaya Hidup